Minggu, 03 Mei 2020

Peran Pemuda Sebagai Generasi Bangsa


PERAN PEMUDA SEBAGAI GENERASI BANGSA

Penyusun  :
Anna Dhifatul F.               (B94219069)
Nura Salma M.                  (B94219105)
MD
Kelas : D-2

Dosen Pengampu :
Baiti Rahmawati, M.Sos

PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

SURABAYA
2020

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
            Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada baginda tercinta Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan syafa’atnya. Tidak lupa pula kami selalu mengucap syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan pembuatan makalah ini.
            Makalah ini membahas tentang Peran Pemuda Sebagai Generasi Penerus Bangsa yang akan dijelaskan dalam beberapa sub yaitu pemuda dan identitas, peran pemuda dalam masyarakat, pemuda dalam prespektif Islam, masalah dan potensi pemuda serta peran pemuda masa kini. Dalam makalah ini kami menyusun dengan 31 referensi.
            Kami juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, kami mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
            Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada dosen mata kuliah kami ibu Baiti Rahmawati, M.Sos yang telah membimbing dalam menulis makalah ini. Tidak lupa pula kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada orang tua kami yang telah membantu mendo’akan kami serta telah membantu memberikan segala keperluan kami dalam membuat makalah ini.
            Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.


Surabaya, 6 Maret 2020

Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR II
DAFTAR ISI IV
PERAN PEMUDA SEBAGAI GENERASI BANGSA 1
A.    Pemuda dan Identitas 1
B.     Peran Pemuda dalam Masyarakat 6
1.      Peran pemuda/mahasiswa dalam menegakkan kemerdekaan 12
2.      Peran mahasiswa/pemuda dalam mempelopori Orde Baru 16
3.      Peran mahasiswa dalam masyarakat 19
4.      Peran mahasiswa/pemuda dalam menjaga kedaulatan bangsa. 24
C.    Peran Pemuda dalam Prespektif Islam 25
D.    Masalah dan Potensi Pemuda 33
1.      Permasalahan Generasi Muda 33
2.      Potensi Generasi Muda 39
E.     Pemuda Masa Kini 43

PENUTUP 51
A.    Kesimpulan 51
B.     Saran 52
DAFTAR PUSTAKA 53















 PERAN PEMUDA SEBAGAI GENERASI BANGSA

  1. Pemuda dan Identitas
Definisi pemuda dalam undang-undang kepemudaan nomer 40 tahun 2009, yang menyebutkan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16-30 tahun. Individu yang senantiasa bergerak dalam proses secara maksimal melalui pendaya-gunaan potensi yang dimiliki, baik fisik maupun pemupukan akal budi merupakan pemahaman dari pemuda.[1]
Dalam kamus Webster, pemuda (Youth) adalah “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person” (kehidupan di antara masa kanak-kanak dan kedewasaan; awal kedewasaan; keadaan muda atau belum matang; kesegaran dan karakteristik daya hidup orang muda).
Pemuda atau yang sering disebut dengan “generasi muda” dalam istilah demografis dan sosiologis. Dalam pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda, yang dimaksud pemuda dapat dilihat secara[2] :
1.      Biologis usia seseorang dikatakan pemuda yaitu antara usia 15-30 tahun.
2.      Budaya atau fungsional di depan pengadilan maka seseorang berusia 18 tahun dapat dikatakan sudah dewasa. Secara psikologis dan budaya, pada usia 21 tahun seseorang dapat ditentukan kematangannya.
3.      Angkatan kerja yaitu ada tenaga muda dan tenaga tua. Tenaga muda merupakan calon-calon tenaga kerja yang berusia 18-22 tahun.
4.      Perencanaan modern menggunakan istilah sumber-sumber daya manusia muda (young human resources) yaitu 0-18 tahun.
5.      Ideologis-politis generasi muda merupakan calon pengganti generasi sebelumnya biasanya berusia 18-30 tahun, dan terkadang sampai usia 40 tahun.
6.      Umur, Lembaga dan ruang lingkup tempat, terdapat 3 kategori:
Siswa   : 6-18 tahun, dibangku sekolah
Mahasiswa      : 18-25 tahun, di Universitas atau perguruan tinggi
Pemuda           : 25-30 tahun, di luar lingkungan sekolah ataupun perguruan tinggi
Gagasan tentang “generasi”, disorot dalam esai klasik Karl Mannheim The Problem of Generations (1952, edisi asli nya 1928) mengilhami banyak karya tentang kajian pemuda sehubungan dengan perubahan sosial (misalnya, Corsten 1999, Mayall 2002, Bab 3). Inilah salah satu gagasan disertasi Juliette Koning ten tang “generasi-generasi perubahan” di sebuah desa Jawa (Koning 1997, 2004).[3]
Dalam perjalanan sejarah dapat dibuktikan bahwa, kemerdekaan yang kita dapat yaitu sebuah bukti perjuangan dari para pemuda. Apabila para pemuda sudah menetapkan untuk bergerak maju dan berusaha, maka tidak ada yang tidak mungkin dapat tercapai dengan semangat para pemuda.
Meskipun negara saat ini sudah tebebas dari penjajahan muncul banyak permasalahan-permasalahan lain yang dihadapi negara saat ini. Kemajuan dan kemunduran suatu bangsa terletak pada kemauan pada generasi muda.[4]
Banyak fakta yang menunjukkan masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan. Namun, sebagai generasi muda penerus bangsa, generasi muda harus turut berperan aktif dalam pembangunan bangsa agar lebih baik. Generasi muda juga harus sadar, bahwa kita tidak boleh hanya berpangku tangan, menjadi penonton dalam cepatnya perkembangan pembangunan saat ini.
Pemuda merupakan konsep yang selalu dikaitkan dengan masalah “nilai” dan lebih sering dikaitkan dengan pegertian ideologis kultural, yaitu pemuda harapan bangsa, pemuda pemilik masa depan, dan lain-lain, dan ini merupakan beban moral bagi pemuda.
            untuk mengenal lebih dalam mengenai kepemudaan maka pemuda dapat dilihat dari dua pendekatan, yaitu:[5]
  1. Pendekatan klasik
Pada masa-masa muda merupakan fase pertumbuhan biologis yang bersifat sementara dimana fase ini merupakan masa perkembangan yang aneh namun menarik untuk diikuti. Pertumbuhan ini bersifat sementara karena manusia tidak dapat menolak untuk menua.
Pemuda sering dianggap sebagai kumpulan orang atau kelompok yang memiliki pendapatnya sendiri meskipun pendapat itu bertentangan dengan pendapat lain. Biasanya pendapat pemuda bertentangan dengan masyarakat umum khususnya orang tua atau generasi sebelumnya. Dengan adanya perbedaan pendapat tersebut, maka seringkali muncul konflik-kolflik yang disebabkan keinginan para pemuda yang tidak sejalan dengan keinginan para generasi tua yang lalu akan menimbulkan gejolak para pemuda dalam mencari identitas. Pendekatan kepemudaan dalam dua asumsi pokok:
a)      Proses perkembangan manusia bukan sebagai sesuatu yang kontinum, namun fragmentaris. Pemuda sebenarnya sedang berusaha untuk menempatkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Apabila pemuda melakukan suatu hal yang tidak wajar dan bertentangan dengan keadaan sosial yang sudah mengakar pada diri masyarakat, maka aka nada perbedaan pendapat dengan generasi tua.
b)      Dalam kehidupan terdapat pola yang dimana pola tersebut presepsi yang diwakili oleh generasi penerus namun tidak melakukan perubahan terhadap tradisi. Pada hal ini pemuda yang tidak ingin ikkut berpartisipasi dalam mendukung proses kehidupan dalam masyarakat.

  1. Pendekatan ekosferis
Dalam pendekatan ini terdapat dua aspek yaitu pertama, pemuda dan kehidupan orang dewasa, serta anak-anak merupakan suatu totalitas, taka da pertentangan maupun pemisah diantaranya. Kedua, nak-anak, generasi tua, dan generasi muda berada didalam suatu pandangan dimana semua semua kalangan bertanggung jawab atas kesejahteraan, keselamatan, dan perkembangan generasi sekarang maupun yang akan datang.

  1. Peran Pemuda dalam Masyarakat
Masyarakat dalam bahasa Arab, yaitu syirk yang artinya bergaul. Sedangkan dalam bahasa Inggris, kata masyarakat sering disebut dengan society yang berasal dari ata socius artinya kawan. Adanya saling bergaul ini tentunya karena ada bentuk-bentuk aturan hidup yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai perseorangan melainkan oleh unsur-unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan (Soelaman, 1993: 63).[6]
Masyarakat merupakan sekelompok manusia yang memiliki tatanan hidup, norma-norma, adat istiadat yang sama ditaati dalam lingkungannya. Generasi muda memiliki peran yang sangat penting dalam lingkungan masyarakat. Generasi muda memiliki peran untuk terus mempertahankan norma-norma dan adat istiadat yang berlaku di kalangan masyarakat.
Dalam setiap kalangan masyarakat, pemuda dianggap sedang mengalami “moratorium”. Moratorium merupakan masa persiapan yang diadakan masyarakat untuk memungkinkan pemuda-pemuda yang bersangkutan dalam jangka waktu tertentu mengalami perubahan, dengan sekalian kesalahan yang mereka buat dalam mengalami perubahan itu (Harsja W. Bachtiar, 1982 : 11).
Peran pemuda dalam masyarakat terbagi menjadi dua hal, yaitu:
a.       Peran pemuda atas usahanya dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan.
Peran ini dibedakan atas:
1)      Sebagai individu yang meneruskan dan melestarikan tradisi dengan sendirinya berusaha mentaati tradisi yang berlaku.
2)      Sebagai individu yang berusaha menyesuaikan diri dengan orang yang berusaha merubah tradisi, sehingga akan terjadi perubahan tradisi dalam masyarakat.
b.      Peran pemuda yang menolak menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Peran ini dibedakan atas:
1)      Jenis pemuda urakan, yang tidak bermaksud mengadakan perubahan dalam kebudayaan dan masyarakat, namun menginginkan kebebasan untuk menentukan kehendaknya.
2)      Jenis pemuda nakal, yang tidak ingin, tidak bermaksud, tidak berniat untuk mengadakan perubahan dalam masyarakat dan kebudayaan, namun berusaha mendapatkan manfaat dari masyarakat dengan cara melakukan tindakan yang dapat merugikan masyarakat.
3)      Jenis pemuda radikal, yang berkeinginan mengadakan perubahan revolusioner akibat tidak bisa menerima kenyataan yang ada.
Pembinaan dan pengembangan generasi muda dapat dilakukan melalui beberapa asas, yaitu:
a.       Asas edukatif, pembinaan dan pengembangan dapat dibedakan atas:
1)      Unsur di luar generasi muda yang didasarkan atas asas: ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani.
2)      Sesama generasi muda yang didasarkan atas asas: silih asih, silih asah, dan silih asuh.
b.      Asas persatuan dan kesatuan bangsa.
c.       Asas swakarsa, yaitu pembinaan dan pengembangan generasi muda harus dapat menumbuhkan, membantu, dan mengembangkan kemauan dan kemampuan generasi muda untuk membina dan mengembangkan diri sendiri dan lingkungan.
d.      Asas pendayagunaan dan fungsionalisasi, penataan berbagai macam organisasi pemuda untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna bagi pelaksanaan program-program generasi muda dalam pembangunan nasional.
Begitu besarnya peran pemuda dalam kehidupan yang akan datang sehingga semua kalanganpun mengakui betapa besar  efek yang dapat ditimbulkan dari generasi muda ini. Salah satu tokoh yang mengakui betapa besar efek pemuda untuk masa depan yaitu Ir. Soekarno presiden Republik Indonesia yang pertama mengatakan.
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”.[7]
Dapat disimpulkan bahwa peran pemuda sangat besar sehingga dapat mengubah dunia. Namun, sebelum generasi muda mengubah dunia dengan gagasan-gagasan luar biasa yang mereka punya. Maka bisa dimulai dari memberikan dampak terhadap lingkungan masyarakat terkecil terlebih dahulu.
Menurut (Abu Ahmadi, 1991: 87), keluarga merupakan unit kesatuan masyarakat yang terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Keluarga juga merupakan suatu sosial terkecil yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial yang ditandai adanya kerja sama ekonomi.[8]
Sebelum pemuda terjun dalam kehidupan bermasyarakat, tentunya para pemuda juga mendapat bekal karakter dari keluarga. Untuk mendapatkan generasi muda yang kompeten dan berkualitas maka peran keluarga merupakan salah satu faktor penting untuk mencapai keberhasilan tersebut.
Sebagai hubungan struktur sosial, keluarga akan memberikan pengaruh terhadap peradaban masyarakatnya yang selanjutnya masyarakat akan menentukan masa depan dan peradaban bangsanya. Dari sini dapat dipastikan bahwa keluarga merupakan unit masyarakat terkecil yang sangat berpengaruh pada kehidupan masa depan suatu bangsa. Pendidikan karakter dalam suatu keluarga sangat penting adanya. Dikarenakan keluargalah yang akan menyiapkan generasi-generasi yang berkarakter.[9] Generasi-generasi unggul tersebut diharapkan dapat menggantikan peran generasi sebelumnya dengan lebih baik sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
Dalam masyarakat, pergantian generasi dapat menimbulkan dua kemungkinan yaitu tidak adanya perubahan atau adanya perubahan. Pergantian generasi dalam suatu masyarakat akan pasti terjadi.[10] Untuk menciptakan generasi yang kompeten maka perlu diadakan pembinaan dan pengembangan generasi muda/pemuda.  Tujuan yang akan dicapai dalam pembinaan dan pengembangan generasi muda/pemuda adalah :
1)      Memantapkan jiwa persatuan dan kesatuan serta semangat sumpah pemuda untuk membangun bangsa dan kepribadian bangsa.
2)      Mewujudkan kader-kader yang bertaqwa kepada tuhan dan berpegang teguh pada Pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidup bangsa.
3)      Melahirkan kader-kader pembangunan nasional yang berbudi luhur, dinamis, dan kreatif.
4)      Mewujudkan WNI yang kreatif berbudaya maju tetap memiliki ciri khas kepribadian Indonesia.
5)      Mewujudkan kader-kader patriot pembela bangsa penerus cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Untuk menjaga dan memelihara keseimbangan dan kelestarian sejarah bangsa, maka perlu ditekankan pentingnya keikutsertaan generasi muda dalam kegiatan pembangunan. Wujud nyata harus dilakukan dalam perbuatan dan pengabdian bukan hanya dalam angan-angan dan mimpi saja. Dalam hubungannya dengan sosialisasi genersi muda khususnya mahasiswa telah melaksanakan telah melaksanakan proses sosialisasi dengan baik dan dapat dijadikan contoh untuk generasi muda, mahasiswa khususnya pada saat ini.

  1. Peran pemuda/mahasiswa dalam menegakkan kemerdekaan.
Peran pemuda dalam sejarah negara dan bangsa Indonesia pertama kali dapat dilihat dari kebangkitan bangsa tahun 1908 atau tepatnya ketika berdiri Boedi Oetomo tanggal 20 Mei 1908. Melalui proses kebangkitan bangsa ini, maka para pemuda telah menggelorakan semangat agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak terserak-serak dalam arti wilayah, suku, ras, agama dan sebagainya akan tetapi telah memiliki kesadaran berorganisasi sebagai persyaratan untukkebangkitan nasional. Mereka dikenal sebagai generasi 08.[11]
Di kalangan pemuda terdapat gerakan Tri Koro Darmo, Jong Java, Jong Celebes Bond, Jong Sumatra Bond, Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia, dan Indonesia Muda. Pada tanggal 30 April 1926 mereka mengadakan Konggres Pemuda di Jakarta. Dalam konggres dihasilkan keputusan untuk mengadakan Konggres Pemuda Indonesia II, dan semua perkumpulan pemuda agar bersatu dalam satu organisasi pemuda Indonesia. Kemudian Konggres Pemuda II diadakan tanggal 27-28 Oktober 1928, disepakati tiga keputasan pokok yaitu: 1) Dibentuknya suatu badan fusi untuk semua organisasi pemuda. 2) Menentapkan ikrar pemuda Indonesia  3) Asas ini wajib dipakai oleh semua perkumpulan di Indonesia.[12]
Salah satu tonggak lain, persatuan dan kesatuan bangsa sebenarnya ketika terjadi Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Hal ini berarti bahwa pemuda telah memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses pembentukan negara kesatuan Republik Indonesia. Melalui Sumpah Pemuda:
Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung  bahasa persatuaan, bahasa Indonesia.

Pada tanggal ketika Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan Radjiman sedang melakukan perjalanan dari Jakarta-Singapura-Dalat yang kemudian kembali lagi ke Jakarta, beberapa pemuda secara diam-diam bahwa Jepang pada saat itu sudah menyerah terhadap sekutu menyusul pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Berita tersebut yang kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai jaringan Gerakan pemuda illegal.[13]
Berita tersebut juga disampaikan oleh Sutan Syahrir kepada Moh. Hatta yang kemudian disampaikan kepada Ir. Soekarno. Namun, pada saat itu Ir. Soekarno meragukan informasi tersebut.
Pada tanggal 15 Agustus dua pemuda yaitu Darwis dan Wikana menyampaikan hasil rapat kepada Ir. Soekarno. Rapat tersebut dipimpin oleh Chaerul Saleh memutuskan bahwa kemerdekaan harus diproklamasikan oleh bangsa Indonesia sendiri. Kemudian mereka berunding bersama Ir. Soekarno dan Moh. Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan dan meyiapkan golongan pemuda, pelajar, dan mahasiswa untuk menghadapi situasi baru.
Mengingat situasi politik dan keamanan tidak kondusif, maka para pemuda membawa Ir. Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Namun Ir. Soekarno masih belum percaya dengan berita kekalahan Jepang.
Berikut ini kutipan Rahmat terkait pidato Chairul Saleh sebelum proklamasi dikumandangkan. [14]
“Sekarang, Bung! Sekarang! Malam ini Juga!” kata Chaerul Saleh. “Kita kobarkan revolusi meluas malam ini juga. Kita mempunyai pasukan Peta, pasukan Pemuda, Barisan Pelopor, bahkan Heiho sudah siap. Dengan satu isyarat Bung Karno seluruh Jakarta akan terbakar. Ribuan pasukan bersenjata sudah siap sedia akan mengepung kota, menjalankan revolusi bersenjata....”
Pada saat proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 memerlukan suatu pengorbanan yang sangat besar. Oleh karena itu setelah proklamasi dikumandangkan, segera para pemuda membentuk organisasi-organisasi politik maupun militer. Setelah mempertahankan kemerdekaan dengan pertumpahan darah, maka para pemuda yang sudah berjuang dengan berbagai cara memiliki tugas baru. Tugas baru tersebut yaitu membangun strategi untuk mempertahankan teritori Indonesia yang sudah berhasil direbut. Meski tidak lagi melawan penjajah dengan kekerasan fisik, namun tugas pemuda sepertinya akan lebih berat karena harus melawan kepentingan diri dan pribadi masing-masing.
Peran pemuda setelah kemerdekaan yaitu memaknai ikrar, sumpah, dan perjuangan para pemuda Indonesia dari era perjuangan penjajah, menuju era baru bernama integritas nasional (kesatuan nasional). Integritas nasional merupakan upaya untuk menjaga dan menjalin nilai-nilai perjuangan masa penjajahan kolonialisme dan Jepang.

  1. Peran mahasiswa/pemuda dalam mempelopori Orde Baru.
Dekrit presiden bermula dari adanya pemulihan umum tahun 1959, yang berhasil membentuk konstituante, dan dalam pelaksanaan tugasnya, konstituante dianggap gagal.[15] Dalam Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, menetapkan bahwa Republik Indonesia kembali menggunakan UUD sebagai landasan kontitusional. Presiden soekarno lau mengemukakan gagasannya yang terkenal dengan nama Demokrasi Terpimpin, yang diharapkan dapat mengelola kekuatan-kekuatan politik yang saling bertentangan. Yang kemudian dalam keadaan tersebut dimanfaatkan oleh golongan komunis (PKI) agar lebih memantapkan peranannya dalam dunia politik.
Timbulnya ide NASAKOM, merupakan pembagian kelompok masyarakat menjadi 3 golongan, yaitu golongan Nasional, golongan Agama, dan golongan Komunis. Fakta tersebut berdampak terhadap kehidupan para pemuda/mahasiswa. Dengan adanya pembagian-pembagian tersebut maka terjadilah perpecahan bukannya persatuan dan kesatuan. Perpecahan tersebut selalu di tunggu-tunggu oleh kelompok komunis karena dengan itu mereka akan lebih memantapkan keterlibatannya dalam hal politik yang kemudian puncaknya yaitu pada peristiwa G 30 S/PKI pada tahun 1945.
Aksi-aksi pemusnahan terhadap kelompok PKI kemudian muncul secara spontan oleh setiap golongan, yang kemudian bersatu dalam Front Pancasila. Pada saat itu kelompok-kelompok pemuda pemuda yang brbreda memiliki tujuan yang sama untuk melakukan perubahan. Tuntutan untuk melakukan perubahan ini sering dikenal sebagai Tritura (Tri Tuntutan Rakyat/ tiga tuntutan rakyat), yaitu pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta anggotanya, perombakan Kabinet Dwikora, dan meminta pemerintah untuk menurunkan harga sembako.[16]
Pada tanggal 15 Januari 1966 diadakan sidang paripurna kabinet Dwikora di Istana Bogor. Dalam sidang itu dihadiri para wakil mahasiswa. Presiden Soekarno menuduh aksi-aksi mahasiswa itu didalangi oleh CIA (Central Intelligence Agency) Amerika Serikat. Pada tanggal 24 Februari 1966 diadakan pelantikan kabinet. Para mahasiswa, pelajar, dan pemuda memenuhi jalan-jalan menuju Istana Merdeka namun dihadang oleh pasukan Cakrabirawa sehingga terjadi bentrok dan menewaskan seorang mahasiswa bernama Arif Rahman Hakim.[17]
Pada kenyataannya yang dihadapi oleh mahasiswa 1966 dan 1974 itu berbeda, yaitu jika generasi 1966 memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan militer. Sedangkan untuk generasi 1974 yang dialami adalah konfrontasi dengan militer yang berposisi sebagai pendukung kemapanan. [18]
Front Pancasila menjadi penggerak lahirnya kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang merupakan unsur terpenting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Berikut ini beberapa organisasi pemuda yang juga tidak kalah penting, yaitu Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KPPI), Kesatian Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI).[19]
KAMI kemudian menjadi pelopor pendobrak ke arah kehidupan baru yang kemudian sering disebut dengan nama Orde Baru (ORBA).

  1. Peran mahasiswa dalam masyarakat.
Dalam pepatah yang berbunyi barangsiapa yang menguasai generasi muda, berarti menguasai masa depan suatu bangsa. Arti tersirat dalam pepatah tersebut yaitu masa depan suatu bangsa itu terletak di tangan generasi muda. Generasi muda memiliki tugas untuk menggantikan generasi sebelumnya.
Jumlah pemuda yang dapat mengenyam Pendidikan Pendidikan tinggi tidaklah banyak. Sebagai pemuda yang dapat menyenyam Pendidikan di perguruan tinggi yang tidak banyak tersebut, memiliki kewajiban untuk membagikan tenaganya untuk kepentingan masyarakat. Mahasiswa secara garis besar memiliki perasn sebagai:
a.      Agent of change
Sebagai Agent of Change, mahasiswa memiliki tugas untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam lingkungan masyarakat yang lebih baik. Perubahan dalam hal kemanusiaan yaitu perubahan yang dilakukan untuk pengabdian masyarakat agar dapat hidup bermartabat dengan menggunakan pengetahuan yang diterima dalam Pendidikan.
Segala hal yang dapat menghambat jalannya kemajuan maka harus diganti dengan hal-hal yang baru dan sesuai dengan tuntutan zaman. Perubahan haruslah memperhatikan situasi dan kondisi keadaan sekitar. Perubahan yang dilakukan di negara lain dan dapat memajukan negara tersebut belum tentu dapat memberikan dampak yang baik pula jika diterapkan di Indonesia.

b.      Agent of development
Sebagai Agent of development, mahasiswa memiliki tugas untuk melancarkan pembangunan dalam segala bidang baik fisik maupun nonfisik. Peran mahasiswa untuk membawa kesuksesan dalam bidang pembangunan sangatlah penting dan tidak dapat diabaikan peranannya. Mahasiswa diharapkan dapat menjadi pelopor-pelopor dalam bidang pembangunan. Pembangunan tidak dapat dijalankan apabila manusia-manusianya tidak berusaha dengan keras.

c.       Agent of modernization
Sebagai Agent of modernization, mahasiswa memiliki tugas untuk bertindak sebagai pelopor dalam pembaruan. Pembaruan yang akan dilakukan tidak lepas kaitannya dengan peran lingkungan masyarakat sekitar. Sesuatu yang sudah tertanam kuat di Indonesia tidak akan mudah untuk diubah dengan hal-hal baru. Segala hal baru tersebut juga belum tentu membawa kebaikan kepada bangsa Indonesia, bahkan terkadang hal-hal baru tersebut dapat membawa bangsa Indonesia terperosok ke jurang kesengsaraan.
Mahasiswa yang memiliki Pendidikan yang cukup tinggi seharusnya dapat memilah mana yang memerlukan perubahan dan mana yang tetap dipertahankan tidak berubah. Untuk suksesnya pembaruan yang akan dijalankan, sebaiknya mahasiswa tidak boleh meninggalkan masyarakat yang akan diadakan perubahan.
Peran pemuda sebagai calon pemimpin masa depan di lingkungan masyarakat juga tidak kalah penting. Dengan terbentuknya organisasi pemuda diharapkan dapat menjadi wadah bagi calon-calon pemimpin bangsa untuk belajar menjadi seorang pemimpin. Penggerak suatu perubahan berawal dari  dalam organisasi pemuda. Organisasi pemuda juga merupakan tempat bagi pemuda untuk mengembangkan potensinya untuk memiliki sifat kritis, idealis, inovatif, solider, dan semangat juang yang tinggi. Dengan adanya organisasi pemuda, diharapkan dapat mendorong kegiatan positif yang nantinya dapat melahirkan generasi penerus bangsa yang memiliki jabatan tinggi dan dapat menggantikan pemimpin sebelumnya.[20]

d.      Agent of Social Control
Sebagai Agent of Social Control, mahasiswa diharapkan dapat menjadi penengah antara pemerintah dengan masyarakat. Mahasiswa diharapkan dapat berperan sebagai pengontrol peraturan, kebijakan, dan kegiatan pemerintah.
Selain mencoba mendalami dan mengaplikasikan materi kuliah yang disampaikan oleh dosen, mahasiswa juga mempunyai tugas lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu mengamati dan mengkritisi apa yang terjadi di masyarakat baik masyarakat kampus maupun masyarakat luas (Urip Santoso : 2015). [21] Sebagai aplikasi menerapkan mahasiswa sebagai social control, diharapkan mahasiswa dapat lebih peka terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar.

e.       Agent of Iron Stock
Sebagai Iron Stock, mahasiswa diharapkan menjadi manusia yang Tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia sebagai generasi penerus bangsa.[22] Mahasiswa sebagai generasi terpelajar sepatutnya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih luas daripada orang lain. Mahasiswa diharapkan dapat menjadi benteng yang kuat dan tangguh dalam menyikapi segala permasalahan yang ada. Kuat dan tangguh tidak hanya dari fisiknya saja namun juga cara pandang dan pola pikir yang cepat serta mental sekuat baja.


  1. Peran mahasiswa/pemuda dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Mahasiswa/pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kedaulatan NKRI khususnya dalam bidang pengembangan riset dan teknologi. Dalam bidang teknologi, mahasiswa berperan untuk mendukung adanya pembangunan infrastruktur nasional. Contohnya dalam hal pembangunan jembatan, mahasiswa khususnya yang dalam bidang Teknik sipil seharusnya memiliki pengetahuan yang lebih luas bukan hanya secara teori saja namun juga menguasai lapangan dan memiliki sikap yang baik. Sehingga dalam praktiknya di lapangan mereka dapat diandalkan dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.[23]
Pemuda merupakan actor dalam pembangunan, generasi muda harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian yang tinggi, semangat patriotisme dan nasionalisme serta memiliki jiwa saing. Pemudalah yang merubah pandangan orang terhadap suatu bangsa dan menjadi tumpuan bagi para generasi terdahulu untuk mengembangkan suatu bangsa dengan ide-ide ataupun gagasan yang membangun, wawasan yang luas, serta berdasarkan dangan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat, bangsa dan Negara.[24]
Dalam menjaga kedaulatan bangsa pemuda diharapkan dapat menjadi pemuda unggulan pembangun negeri adalah dengan meningkatkan disiplin dan produktivitas belajar dan selalu berusaha berasa di garis depan dalam penguasaan IPTEK dalam bidangnya masing-masing. Serta, mengembangkan kualitas kebebasan dan demokrasi yang bertanggung jawab dan berbudaya.[25]

  1. Peran Pemuda dalam Prespektif Islam
Kata pemuda dalam Bahasa Arab yaitu fata atau al-fityatu. Istilah ini terdapat pada Al-Qur’an.[26]
اِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْـكَهْفِ فَقَا لُوْا رَبَّنَاۤ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَـنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا۝
"(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, Ya Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami."(QS. Al-Kahfi [18]: Ayat 10)
Pada surat Al-Khafi ayat 9-26 menceritakan tentang kisah anak-anak muda yang tidak ingin kembali menyembah berhala sehingga mereka memutuskan untuk mengasingkan diri dari masyarakat dan berlindung dalam suatu gua. Karena pada saat itu mereka termasuk minoritas di antara masyarakat penyembah berhala.[27]
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa peran pemuda sangatlah penting sebagai agen perubahan. Karenanya, dalam agama Islam memandang masa-masa muda adalah waktu yang sangat penting dan mahal untuk menentukan masa depan seseorang tersebut. Masa muda merupakan masa dimana proses untuk menjadikan para pemuda dapat bermanfaat bukan hanya untuk dirinya saja namun juga bagi masyarakat sekitar.
Nabi Muhammad SAW Telah memberikan nasihatnya yang tertuang dalam hadits yang berkaitan dengan kewajiban untuk memaksimalkan peran usia dan pengalaman masa muda. Sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Abbas yang berbunyi[28] :
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“manfaatkan 5 hal sebelum datang 5 hal lain: (1) mudamu sebelum tuamu, (2) sehatmu sebelum sakitmu, (3) kayamu sebelum miskinmu, (4) luangmu sebelum sibukmu, (5) hidupmu sebelum matimu.”
Islam menempatkan masa muda sejajar dengan 4 aspek lainnya. Ini menunjukkan betapa pentingnya masa muda itu. Apabila kita kehilangan masa muda sama artinya dengan kita kehilangan salah satu modal kebahagiaan hidup. Dalam pandangan Islam, masa muda merupakan masa peretas kejayaan.
Kata-kata yang tidak kalah lantang juga digemakan oleh Syaikh Mushthofa al-Ghulaiyaini, seorang ulama besar dari Beirut Lebanon. Dalam karya visionernya yang berjudul ‘Izhatun Nasyi’in (  عِظَةُ النَّاشِئِين )beliau berkata:
إِنَّ فِى يَدِكُمْ أَمْرَ الأُمَّةِ وَفِى إِقْدَامِكُمْ حَيَاتَهَا فَأَقْدِمُوْا إِقْدَامَ الأَسَدِ الْبَاسِلِ وَانْهَضُوْا نُهُوْضَ الرَّوَايَا تَحْتَ ذَاتِ الصَّلاصِلِ تَحْيَ بِكُمُ الأُمَّةُ
“Di tanganmulah, wahai generasi muda, segala urusan bangsa. Dalam langkahmu tertanggung masa depan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, melangkahlah kalian bagaikan seekor harimau yang gagah berani, yang tidak pernah mundur setapak pun. Bangkitlah laksana para pemegang panji perang, yang berangkat menuju medan juang dengan penuh tanggung jawab. Dengan usaha dan hasil karyamu, bangsa kalian akan hidup bahagia.”
Ini menunjukkan bahwa pemuda merupakan calon-calon pemimpin di masa depan. Masa depan bangsa tergantung bagaimana sikap para generasi mudanya untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik.
Untuk menciptakan generasi muda yang bermanfaat bagi lingkungan masyarakat, maka diperlukan Lembaga Pendidikan yang dapat mendidik mereka sehingga mampu berperan dalam lingkungan masyarakat. Perguruan tinggi disini sangat berperan untuk menyeimbangkan antara kualitas individu dengan kebutuhan masyarakat.
Perguruan tinggi merupakan suatu lembagayang memiliki tujuan untuk menghasilkan SDM yang dapat mengabdi di masyarakat. Terdapat pula perguruan tinggi Islam yang dapat membentuk individu hidup sesuai dengan ajaran Islam. Marimba menyatakan, Pendidikan Islam merupakan bimbingan jasmani dan rohani yang berdasar pada hukum agama Islam agar dapat membentuk individu yang berkarakter Islami.[29]
Terbentuknya masyarakat seutuhnya yang berkualitas unggul yang berkembang dan tumbuh di atas pola kehidupan yang seimbang antara lahiriah dan batiniah, antara jasmani dan rohaniah atau antara kehidupan mental spiritual dan fisik material. Dalam bahasa Islam, membentuk insan kamil yang dapat mengembangkan dirinya dalam pola kehidupan yang kahasanah fiddunnya dan khasanah fil akhirat terhindar dari siksaan api neraka, secara simultan tidak terpisah-pisah antara kedua unsurnya.
Saat ini perbincangan mengenai radikalisme di kalangan muda mulai banyak diperbincangkan. Sejalan dengan perkembangan arus globalisasi, banyak hal negative yang muncul. Radikalisme dapat mengancam keutuhan NKRI ini berawal dari adanya keinginan untuk mendirikan negara yang berlandaskan Islam. Radikalisme merupakan pemikiran atau gerakan yang menginginkan perubahan atau permbaruan sosial dan politik namun dengan cara kekerasan. Hal ini dapat mengguncang kepribadian dan jiwa para pemuda sebagai generasi penerus bangsa.
Radikalisme mengenalkan dirinya sebagai jihad melawan kaum kafir dengan mendoktrin anggotanya dengan beberapa pernyataan yang pada kenyataanya itu merupakan tindakan anarkis dan termasuk kriminalitas jenis baru yang terkadang disebut oleh masyarakat sebagai teroris. Mereka biasanya merekrut anggota dari kalangan pemuda karena pemuda dianggap sebagai generasi yang mudah dipengaruhi, dilatih, dan diajari untuk menjadi seorang pemberontak. [30]
Sebagai pemuda kita dapat menangkal radikalisme. Sebagai pemuda Islam kita juga tidak boleh menghakimi oranglain dan menganggap orang lain salah sedangkan menganggap diri sendiri benar. Kita sebagai pemuda supaya lebih beriman kepada Allah SWT dan juga dapat mencontoh sikap-sikap Nabi Muhammad SAW yang sangat mulia. Kita juga harus belajar dari guru yang tepat dan tidak menafsirkan segala sesuatu dari satu sudut pandang saja. Kita pemuda Islam kita juga pemuda penerus bangsa. Saling menghargai dan menghormati merupakan kunci untuk kita membangun perubahan yang nyata.
Peran pemuda sebagai penjaga Islam yang rahmatan lil’alamin dengan melakukan pendekatan tasawuf. Tasawuf  merupakan wadah untuk para pemuda dapat menumbuhkan karakter yang sejalan dengan ajaran Islam yang ramah bukan marah, damai dan dapat memberikan ketenangan kepada semua orang.
Tasawuf merupakan sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban demi kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap-sikap tersebut pada hakikatnya yaitu akhlak mulia. (Nata Abuddin 2015, hal. 155).
Pada hakikatnya pemuda memiliki peran dalam agama. Berikut ini merupakan berbagai peran pemuda dalam beberapa aspek seperti aspek kehidupan, beragama, dan berbangsa.[31]
  1. Kekuatan moral
Pemuda seharusnya memiliki karakter yang dapat menumbuhkan kesadaran moral. Pemuda sebagai generasi bangsa tidak hanya cerdas secara intelektual namun juga cerdas dalam emosional.
Jika kita mengambil contoh terhadap 4 sifat wajib para rasul, seperti Nabi Muhammad SAW sebagai Uswatun Hasanah atau teladan yang baik, The Best of The Best dalam bermacam sifat dan perilaku. Empat sifat wajib yang akan mencangkup berbagai nilai karakter, yaitu:
a)      Shiddiq (jujur)
b)      Amanah (terpercaya)
c)      Tabligh (menyampaikan apa yang diterima dari Allah)
d)      Fathanah (pintar)
Karakter dan moral ini diharapkan para pemuda dapat memiliki kekuatan moral dan dapat menjadi teladan untuk generasi selanjutnya.
  1. Kontrol sosial
Ashhabiyah (kesukuan atau tribalism) merupakan solidaritas sosial dalam masyarakat tradisional yang didasarkan pada hubungan darah dan kekerabatan menurut Ibnu Kholdun. Unsur perekat dalam masyarakat ini akan semakin kuat apabila ditambah dengan kesamaan agama.
  1. Agen perubahan
Manusia dalam Al-Quran dipandang sebagai Khalifah Tuhan (khalifah Allah) di atas bumi dan dilengkapi kehambaanya (al-ubudiyyah) terhadapnya. Pemuda sebagai agen perubahan diharapkan dapat menggunakan pikirannya untuk menjaga marwah Islam sesuai dengan syariat Islam.

Berdasarkan pembahasan di atas, memiliki peran dan tanggung jawab dalam menjaga Islam yang rahmatan lil’alamin, dengan persatuan dan kesatuan bangsa, sikap bijak dan toleran, dan kepedulian terhadap sesama.


  1. Masalah dan Potensi Pemuda
  1. Permasalahan Generasi Muda
Masalah kepemudaan bukan lagi masalah yang asing bagi kita karena masalah ini pasti pernah dialami oleh setiap generasi yaitu masalah antara generasi penerus dan generasi yang lebih tua. Masalah ini wajar apabila dialami oleh setiap generasi karena ini merupakan proses pendewasaan diri setiap individu, dimana setiap individu tersebut dalam masa menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru dan diharapkan setiap individu memiliki pandangan hidup yang lebih baik.[32]
Sebagian pemuda menempuh pendidikan lebih tinggi daripada orangtuannya sehingga terdapat kurangnya kesamaan pandangan antara orang tua dan anaknya. Pada masyarakat tradisional biasanya para orang tua dan sesepuh memberikan pengertian dan dorongan kepada anaknya mengenai kehidupan bermasyarakat yang dapat di terapkan di kehidupan masyarakat masa kini. Namun, seringkali para orang tua dan sesepuh tersebut kurang memahami apa yang terjadi di kehidupan masyarakat masa kini. Karena sering kali terdapat beberapa kondisi yang belum pernah terjadi pada masa sebelumnya.
Dewasa ini ada beberapa hal yang ditemukan yaitu dalam segi usia, pemikiran, dan fisik seorang pemuda dapat dikatakan sudah dewasa. Namun, dari segi keuangan dan mental masih belum sepenuhnya dewasa. Saat ini banyak ditemukan kasus dimana ada beberapa pemuda yang sudah menikah, memiliki keluarga dan dapat mendapatkan hak politiknya sebagai warga negara Indonesia tetapi dari segi ekonomi masih bergantung pada orang tuanya.
Permasalahan antar generasi bukanlah permasalahan baru bagi kita. Kesenjangan antar generasi ini akan semakin nampak pada saat ada masalah yang terlihat. Pada umumnya masalah antar generasi ini merupakan sebuah cerminan dari kehidupan berbudaya masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, cara untuk menyelesaikan sebuah masalah juga merupakan cerminan dari bangsa itu sendiri.
Para ahli paedagogik sosial juga berpendapat bahwa masalah yang terjadi pada masyrakat antar generasi kurang dapat di masyarakat yang tertutup tradisional. Maka dapat dikatakan bahwa masalahan antar generasi merupakan suatu masalah modern. Pada intinya bahwa dalam masyarakat tradisional, pembinaan dan pendewasaan terjadi secara bertahap yang akan diawasi oleh masyarakat sosial.
Stabilitas sosial akan terbentuk apabila proses pembentukan generasi berjalan dengan baik sehingga dapat membentuk pribadi generasi yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh generasi sebelumnya.[33]
Dengan demikian, sudah jelas bahwa generasi muda harus bersungguh-sungguh mempersiapkan diri. Menurut pola dasar pembinaan dan pembangunan generasi muda bahwa permasalahan generasi muda dapat dilihat dari beberapa aspek sosial seperti aspek sosial psikologi, sosial budaya, sosial ekonomi, dan sosial politik, yakni : [34]
1)      Sosial Psikologi
Proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian serta penyesuaian diri secara jasmani dan rohani sejak asa kanak-kanak sampai usia dewasa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti keterbelakangan jasmani dan mental karena salah asuh oleh orang tua/ keluarga maupun guru-guru di lingkungan sekolah, pengaruh negatif dari lingkungan pergaulan sehari-hari oleh teman sebayanya. Hambatan – hambatan tersebut memungkinkan timbulnya kenakalan remaja, ketidakpatuhan kepada orang tua dan guru, kecanduan pada narkotika, dll.

2)      Sosial Budaya
Proses pendewasaan generasi muda dalam proses pembangunan dan modernisasi apabila tidak memperoleh arah yang jelas, maka corak warna masa depan bangsa akan menjadi lain dari yang dicita-citakan. Benturan antara nilai-nilai budaya tradisional dengan nilai-nilai budaya baru akan dapat menimbukan pertentangan antara generasi muda dengan generasi sebelumnya sehingga dapat menimbukan perbedaan sistem nilai dan pandangan antara generasi tua dan generasi muda. Lebih lanjutnya, kondisi ini akan menyebabkan terputusnya kesinambungan nilai-nilai  luhur bangsa sebagaimana dalam dasar negara Pancasila, antara lain bergesernya salah satu ciri kehidupan masyarakat Indonesia, dari kekeluargaan dan gotong royong menjadi individualistis.

3)      Sosial Ekonomi
Pertambahan jumlah penduduk dan belum meratanya pembangunan dan hasil-hasil pembangunan mengakibatkan bertambahnya pengangguran di kalangan generasi muda dikarenakan kurangnya lapangan pekerjaan. Ini menimbulkan masalah sosial tersendiri serta rasa frustasi di kalangan pemuda. Anggaran Pendidikan yang masih terbatas menyebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan harapan yang pada akhirnya tidak mampu menjawab tantangan kebutuhan pembangunan.

4)      Sosial Politik
Kehidupan sosial politik aspirasi pemuda berkembang cenderung mengikuti pola infrastruktur politik yang hidup dan berkembang pada suatu periode tertentu yang mengambat upaya penumbuhan satu orientasi baru, yaitu pemikiran untuk menjangkau keentingan bangsa di atas segala kepentingan lain. Belum terarahnya Pendidikan politik di kalangan generasi muda dengan pengahayatan mekanisme demokrasi Pancasila yang tertib hokum dan disiplin nasional menyebabkan upaya penyaluran aspirasi generasi muda belum dilakukan secara instutional dan konstitusional.
Dari beberapa aspek sosial dapat disimpulkan beberapa masalah yang menyangkut generasi muda saat ini adalah :
a)      Menurunnya jiwa idealism, patriotisme, dan nasionalisme di kalangan masyarakat termasuk generasi muda.
b)      Generasi muda kurang yakin akan masa depannya.
c)      Fasilitas Pendidikan dan jumlah generasi muda saat ini kurang seimbang. Sehingga banyak terdapat kasus putus sekolah dengan berbagai alasan.
d)     Tingginya tingkat pengangguran dan kurangnya lapangan pekerjaan dapat mengakibatkan menurunnya produktivitas nasional serta dapat menimbulkan berbagai macam masalah sosial lainnya.
e)      Kurangnya kesadaran terhadap pentingnya memenuhi gizi sehingga dapat menghambat perkembangan kecerdasan di kalangan generasi muda.
f)       Tingginya tingkat pernikahan dini.
g)      Pergaulan bebas.
h)      Maraknya kenakalan remaja serta penyalahgunaan narkotika.

Saat ini generasi muda dihadapkan dengan masalah penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang yang semakin meningkat. Perilaku generasi muda yang menyimpang ini dapat membahayakan kelangsungan hidup bangsa di kemudian hari. Semakin lama zat-zat berbahaya tersebut akan terus menggerogoti dan menghancurkan syaraf yang akan menimbulkan generasi muda kita tidak dapat berpikir secara jernih. Para generasi bangsa yang berkualitas akan terus digerogoti oleh narkoba. Bahaya narkoba akan selalu mengincar generasi muda kapan saja.[35]

  1. Potensi Generasi Muda
Potensi-potensi generasi muda yang perlu dikembangkan, yaitu :[36]
  1. Idealisme dan daya kritis.
Jika dilihat dari segi sosiologis, generasi muda masih belum dapat dikatakan matang dalam tatanan yang ada, sehingga generasi muda biasanya dapat melihat kekurangan dalam suatu tatanan sehingga dia dapat mencari suatu gagasan baru. Idealisme dan daya kritis tersebut sebaiknya didampingi dengan rasa tanggung jawab dengan seimbang.

  1. Dinamika dan kreatifitas.
Kedinamisan dan kreatifitas merupakan kemampuan dan kemauan untuk melakukan sebuah perubahan, pembaharuan, dan penyempurnaan terhadap segala hal yang kurang maupun menyampaikan pendapat alternatif baru. Kedinamisan dan kreatifitas dapat dicapai dengan adanya idealisme dalam generasi muda.
  1. Keberanian mengambil resiko.
Perubahan tidak akan terjadi apabila kita tidak berani mengambil sebuah keputusan yang beresiko. Sebagai generasi muda seharusnya memiliki keberanian dalam mengambil resiko. Setiap perubahan mengandung adanya resiko entah baik maupun buruk.
  1. Optimis dan kegairahan semangat.
Generasi muda merupakan generasi yang memilliki semangat yang masih menggebu-gebu karena generasi muda memiliki energi yang membara. Sehingga apapun yang pemuda lakukan dengan semangat tinggi akan optimis untuk melakukan segala sesuatu nantinya. Para generasi muda tidak akan mudah patah semangat karena suatu kegagalan. Optimisme dan kegairahan semangat ini yang kemudian menjadi pendukung untuk terus maju dan berkembang.

  1. Sikap kemandirian dan disiplin murni.
Sebagai generasi muda sikap mandiri dan disiplin harus tertanam dalam diri sendiri. Agar mereka tidak memiliki sikap tenggang rasa.
  1. Terdidik.
Menurut perhitungan kuantitatif dan kualitaatif seorang generasi muda itu adalah generasi yang terpelajar karena terbukanya peluang kesempatan dari generasi-generasi sebelumnya.
  1. Keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan.
Keaneragaman generasi muda sama halnya dengan keaneragaman masyarakat. Keanekaragaman ini juga dapat menghambat jika dipikirkan secara sempit. Keaneragaman tersebut dapat ditempatkan dalam rangka integrasi nasional dengan semangat Sumpah Pemuda 1928.
  1. Patriotisme dan nasionalisme.
Menanamkan rasa kebanggaan, kecintaan terhadap tanah air, akan mempertebal semangat pengamdian dan kesiapan generasi muda dalam membela dan mempertahankan bangsa dan negara dari berbagai bentuk ancaman


  1. Sikap kesatria.
Rasa tanggung jawab, pengorbanan, pengabdian serta idealisme keberanian adalah sebuah unsur yang harus ditanamkan pada generasi muda indonesia sebagai pembela dan penegak kebenaran dan keadilan bangsa.
  1. Kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi.
Pengembangan ilmu dan teknologi (IPTEK) dapat dikembangkan sebagai transformator dan dinamisator terhadap lingkunganya. Dan lebih melatar belakangi ilmu serta pendidikan dan juga penerapan teknologi. Pemuda memiliki potensi lebih besar untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi karena mereka merupakan generasi yang tidak dapat lepas dari teknologi. Sehingga, pemikiran untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi akan lebih inovatif.
Sosialisasi merupakan proses individu untuk membantu dan menyesuaikan diri antara tindakan dan cara pendangnya supaya pada akhirnya dapat membantu dan berperan baik sebagai kelompok ataupun secara individu.
Dengan adanya proses sosialisasi, individu pemuda akan kabiasaan-kebiasaan hidup dan pandangannya terhadap suatu masalah dalam proses sosialisasi akan lebih beragam. Diharapkan para pemuda dapat membawa diri dalam bersikap dilingkungan masyarakat dan budayanya. 
Proses sosialisasi dialami oleh semua warga negara tanpa kecuali. Dalam buku “Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia” karya Alfian tahun 1978 menyebutkan bahwa “Disenangi maupun tidak disenangi, disadari maupun tidak, proses sosialisasi dialami oleh semua anggota masyarakat, baik penguasa maupun orang awam”; anak-anak, pemuda, orang tua, baik pria maupun wanita.[37]

  1. Pemuda Masa Kini
Dilihat dari perilaku, tingkah laku pemuda sekarang sudah mulai terlihat apatis, artinya perilaku tidak peduli terhadap suatu kesosialisasian masyarakat, padahal hal tersebut sangat diperlukan untuk meneruskan kehidupan bermasyarakat sekarang ini. Pemuda terlihat bertindak sesuka hati, artinya tidak peduli kejadian apa yang sedang terjadi dan tidak banyak mendengar apa kata orang asalkan menurutnya baik terus dilakukannya.
Golongan pemuda terhadap masyarakat sekarang ini, tidak mendengarkan apa kata orangtua terdahulu, padahal orang terdahulu sangat memerlukan adanya keaktifan, kepedulian, dan kreatifitas dari pemuda sekarang agar mampu terus berkembang di dalam kehidupan bermasyarakat dan dapat memimpinnya jika suatu saat orang terdahulu kita sudah tidak ada. Menganut kebebasan pemuda, mengakibatkan pemuda melakukan tindakan anarkis, moral pemuda menjadi rusak oleh karena itu rasa cinta terhadap budaya atau kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dimasyarakat akan tidak ada artinya sama sekali jika hal tersebut terjadi. Adanya perkembangan zaman yang disertai dengan teknologi ini, kita harus semakin semangat untuk mempertahankan budaya yang telah ada. Dengan adanya jiwa kepedulian dan cinta terhadap lingkungan sendiri hal buruk akan jauh dari kita karena kepedulian memunculkan rasa kebersamaan yang kokoh dan tidak dapat tergoyahkan.[38]
Namun, tidak semua pemuda bertindak sesukanya. Masih ada pemuda zaman sekarang yang suka melestarikan budaya orang tua bahkan ada juga pemuda zaman sekarang yag mengembangkan budaya tersebut sehingga dapat menjadi budaya yang lebih baik dan dapat di terima oleh seluruh kalangan. Pemuda merupakan harapan masa depan. Harapan bahwa pemuda sekarang dapat membawa lingkungan, negara, atau dalam skala besarnya dunia menjadi dunia yang lebih baik. Dunia yang diinginkan oleh setiap orang. Harapan tersebut akan dapat menjadi nyata apabila pemuda zaman sekarang memiliki kualitas yang baik.
Kualitas pemuda masa kini akan menjadi jaminan dari masa depan suatu bangsa yang cerah. Pemuda merupakan aset bagi masa depan suatu bangsa yang tidak hanya perlu untuk dijaga dan dipelihara namun juga dikembangkan. Kemampuan intelektual mendukung kemampuan fisik dan keterampilan yang dimiliki pemuda, begitupula sebaliknya sehingga masa depan bangsa Indonesia menjadi cerah.
Pemuda sebagai pemilik masa depan harus mulai dipersiapkan dengan sungguh-sungguh melalui berbagai upaya mulai dari tingkat nasional maupun lokal.  Pemuda pada masa depan harus memiliki wawasan kebangsaan yang kuat sebagai hasil dari kemampuan fisik, keterampilan, dan intelektualnya. Pemerintah harus menyiapkan berbagai program unggulan untuk membantu mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan kemampuan fisik, keterampilan, dan intelektual yang dibutuhkan pemuda untuk menghadapi masa depannya. Dukungan terhadap pengembangan sumber daya manusia di Perguruan Tinggi menjadi sangat penting dalam penyiapan kemampuan pemuda untuk masa depan.[39]
Di era sekarang ini pemuda dihadapkan akan perubahan lingkungan yang sangat cepat. Pemuda yang berkualitas akan dapat ikut berkembang di lingkungan yang serba cepat ini. Perkembangan teknologi diberbagai bidang, perkembangan pemikiran manusia, maupun perkembangan masalah-masalah yang ada. Apabila pemuda tidak mau atau lambat mengikuti perkembangan tersebut maka tidak menutup kemungkinan akan tertinggal di dunia yang serba cepat ini.
 Pemuda atau masyarakat umumnya memiliki kebutuhan untuk saling berkomunikasi dan memperoleh berbagai informasi dalam hidup apakah itu informasi bisnis, politik, dll dari berbagai lokasi. Namun keterbatasan jarak dan waktu menjadi kendala berarti dalam berkomunikasi dan memperoleh informasi.
Perkembangan ICT (Information and Communication Technologies) yaitu perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi saat ini memberikan dampak signifikan terhadap pemuda dan masyarakat pada umunya, media sangat berperan penting terhadap informasi dalam kehidupan sehari – hari . Kemajuan ICT mempermudah masyarakat untuk mengakses berbagai informasi dimanapun, kapanpun dan apapun informasi yang dibutuhkan tanpa adanya batasan-batasan berarti.[40]
Perkembangan teknologi memiliki memiliki dampak positif dan negative. Dengan adanya perkembangan teknologi, manusia semakin dimudahkan dalam segala pekerjaannya. Contohnya jika dahulu pemuda apabila ingin mengungkapkan aspirasinya atau pendapatnya agar di dengar oleh pejabat-pejabat pemerintahan maka para pemuda akan melakukan demonstrasi atau aksi turun ke jalan. Namun, saat ini semua orang bisa mengungkapkan aspirasinya semakin mudah dengan adanya media sosial. Namun disisi lain, perkembangan teknologi ini pula juga memiliki dampak negative yaitu karena setiap orang dapat mengakses teknologi atau media sosial sehingga banyak hal-hal yang tidak benar yang tersebar di media sosial yang menyebabkan masalah.
Media sosial saat ini sangat banyak macamnya. Salah satunya yaitu Instagram. Banyak orang dari kalangan ana-anak, remaja, pemuda, hingga orang tua memiliki media sosial ini.  Instagram dewasa ini menjadi platform sosial media yang banyak digemari dan berpengaruh terutama di kalangan pemuda. Instagram berisi konten video berdurasi kurang dari dua menit, foto, dan gambar karikatur serta rangkaian kata-kata, bijak, humor, bahkan satire yang kesemuanya itu sering disebut meme. apakah ide atau gagasan yang diusung oleh akun tertentu itu diakseptasi, diapresiasi, atau sebaliknya mendapat resistansi dari para pengikutnya.[41]
“Kalau dulu, ketika anak-anak muda terlibat aktivisme, mereka itu monoton. Kalau sekarang, gerakan mahasiswa itu kreatif. Poster-posternya sebagian lucu-lucu. Kalua dulu, kalua ada demo, poster-poster nya serius semuanya” Kata Anies Baswedan.[42]
            Dapat disimpulkan bahwa pemuda zaman sekarang lebih inovatif daripada pemuda zaman dahulu. Dengan adanya teknologi pula para pemuda juga lebih inovatif dalam mengembangkan teknologi yang ada. Perkembangan teknologi tidak akan melambat malah akan semakin cepat. Maka dari itu, peran pemuda saat ini adalah memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi untuk hal-hal positif dan memunculkan inovasi-inovasi terbaru.

“kawan-kawan pemuda, jangan menunggu dunia berubah. Dunia ada di tangan mu asal kita berani melangkah kita tak akan pernah kalah.” Kata Nadiem Makarim[43]

Menurut Nadiem, Indonesia membutuhkan sosok anak muda yang memiliki atau menguasai ketiga hal ini :
  1. Ia yang punya keberanian untuk mengikuti isi hatinya. Anak muda yang memiliki karakter, prinsip, yang tidak mudah terpengaruh oleh dorongan dari luar dirinya atau perkataan orang lain.
  2. Ia yang memiliki kemampuan dalam memecahkan berbagai macam masalah. Entah itu masalah dirinya sendiri, masalah di tempat kerjanya, atau mampu melewati masalah dalam mencapai misi hidupnya.
  3. Ia yang mampu di ajak bekerjasama atau berkolaborasi. Karena tentu di era modern sekarang ini, kita tidak bisa bekerja sendirian, kita perlu orang lain, kita perlu berkolaborasi, kita memerlukan tim yang solid dalam mencapai target apapun dalam hidup ini.
Dapat di simpulkan bahwa kita sebagai pemuda masa kini yang tumbuh berkembang tidak lepas dengan adanya teknologi. Maka, kita juga harus mengembangkan karakter diri kita dan selalu menggali potensi diri. Kita harus bisa berkembang sesuai dengan jati diri kita dan mengikuti kata hati.
Selanjutnya, kita juga harus mampu untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Kita hidup tidak mungkin tidak pernah menemui masalah. Setiap orang memiliki masalahnya msing-masing, hanya tinggal bagaimana cara kita menghadapi dan menyelesaikan masalah itu. tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Setiap masalah memiliki jalan keluarnya masing-masing.
Terakhir yaitu bekerja sama karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Maka dari itu, dibutuhkan kerja sama yang hebat dan tim yang solid akan menciptakan kesuksesan abadi.
Sudah saatunya kita sebagai pemuda berjuang untuk maju agar bisa merdeka. Berjuang dengan sungguh-sungguh, maju dalam berinovasi dan merdeka dari segala hal yang menghambat kita untuk berkreasi.


PENUTUP

  1. Kesimpulan
Pemuda atau sering kita sebut dengan generasi muda sangat berperan dalam berbagai aspek. Pemuda juga berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan sampai saat ini. Peran pemuda dalam lingkungan masyarakat juga terbagi menjadi beberapa jenis yaitu pemuda yang mau untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pemuda yang menolak menyesuaikan diri. Selain peran pemuda dalam masyarakat dan kemerdekaan, adapula peran pemuda dalam prespektif Islam menurut al-qur’an dan hadits. Disamping begitu banyaknya peran pemuda atau generasi muda dalam kehidupan ternyata ada pula masalah-masalah yang dihadapi oleh pemuda yang dilihat dari beberapa aspek sosial seperti aspek sosial psikologi, sosial budaya, sosial ekonomi, dan sosial politik. Walaupun dihadapkan dengan begitu banyaknya masalah, pemuda juga memiliki potensi dalam dirinya.
Dari perkembangan zaman ini semakin pudar antara pemuda yang satu dengan pemuda yang lainnya karena efek dari adanya perkembangan teknologi yang semakin cepat. Namun, tidak semua pemuda memiliki karakter seperti itu. Banyak pula pemuda yang memiliki jati diri yang kuat dan dapat diandalkan untuk menjadi pilar masa depan yang lebih cerah. Banyak tokoh-tokoh bangsa yang percaya dan yakin bahwa generasi muda dapat melakukan tugasnya dengan baik.

  1. Saran
Penulis tentunya masih menyadari jika makalah diatas masih terdapat banyak kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber serta kritik yang membangun dari para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Buku
Agus, Darmansyah, dkk. Ilmu Sosial Dasar. (Surabaya: Usaha Nasional).
Ahmadi, Abu. Ilmu Sosial Dasar. (Jakarta: PT. Rinka Cipta, 2003).
Arnicun, dan Hartomo. Ilmu Sosial Dasar. (Jakarta: Bumi Aksara, 1993).
Casofa, Fachmy. Habibie Tak Boleh Lelah dan Kalah. (Solo: Metagraf, 2014). 120.
Cholil, Tasmuji. dkk. Ilmu Alamiah Dasar ILmu Sosial Dasar Ilmu Budaya Dasar (IAD-ISD-IBD). (Surabaya: UINSA Press, 2019).
Djatimurti, Sri Rajahadju R.H. Ilmu Sosial Budaya Dasar. (Yogyakarta : CV. Andi Offset, 2016).
Herdiansyah, Wildan. Melunaknya Perjuangan Masa Pergerakan Nasional. (Boyolali: Hamudha Prima Media, 2010).
Nahrawi, Imam. Jihad Kebangsaan. (Surabaya: PW LTN NU JATIM, 2017).
Nahrawi, Imam. Tegaskan Potensi Cinta Negeri. (Surabaya: Pustaka Idea, 2017).
Permana, Hendra. Orde Baru. (Kalimantan Barat : Derwati Press, 2018).
Pujisantoso, Sudarwanto. Demokrasi Liberal (1950-1959) dan Demokrasi Terpimpin (1959-1966). (Kalimantan Barat : Derwati Press, 2018).
Salim, Moh. Haitami. Pendidikan Agama dalam Keluarga. (Jogjakarta: Ar – Ruzz Media, 2017).
Suhada, Idad. Ilmu Sosial Dasar. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2016).
Widyanto, Aloysius Bram. “Pemuda dalam Perubahan Sosial”.

Jurnal
Anwar, Sahipul.Peran Mahasiswa Perguruan Tinggi Islam Aceh Tenggara sebagai Agents of Social Change”. Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya. Vol. 4 no. 2. 2019.
Bidadari, Ashinta Sekar. “Ancaman Narkoba Bagi Generasi Penerus Bangsa”.
Heri, Jon. “Peran Pemuda dalam Pembangunan Politik Hukum di Indonesia”. Nurani. VOL. 15. NO. 1. Juni 2015.
Istichomaharani, Ilma Surya dan Sandra Sausan Habibah. “Mewujudkan Peran Mahasiswa sebagai “Agent of Change, Social Control, dan Iron Stock””. Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper ke-2 “Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Pembelajaran Kreatif di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”. 2016
Januarharyono, Yudhaswara. “Peran Pemuda Di Era Globalisasi”.
Malau, Waston. dan Daniel Harapan P. S.. “Pemuda dan Masa Depan Bangsa”. Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan. Vol. 1 No. 1. 2017.
Muksin, M. dan Iwan Krisnadi. “Peran ICT sebagai Media Pemuda Masa Kini dan Budaya Masyarakat”.
Mulya, Gusti Ngurah A. A. dan Ratna Arta W. “Organisasi Pemuda sebagai Wahana Kaderisasi Pemimpin Bangsa Berjiwa Pancasila”. Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
Naafs, Suzanne. dan Ben White. “Generasi Antara: Refleksi tentang Studi Pemuda Indonesia”. .Jurnal Studi Pemuda. Vol. 1 No.2. September 2012.
Nagel, P. Julius F. “Pengembangan Jiwa dan Kecerdasan Wirausaha Untuk Kemandirian Bangsa”. Seminar Nasional IENACO – 2016.
Rozaq, Muhammad Fathur. “Pengaruh Meme Terhadap Identitas Pemuda Muslim Nusantara: Telaah Respon Konten Instagram”. Jurnal Studi Keislaman. Vol. 19 No.1. Juni 2019.
Syaripuddin. “Mempersiapkan Remaja Bangsa Menjadi Generasi yang Ideal Sejak Dini, agar dapat Berpartisipasi Aktif dalam Upaya Pembangunan Bangsa yang Lebih Baik”. Jurnal Ilmiah Maju. Vol. 1. No. 1. Juni 2018.
Suwito, Anto. “Membangun Integritas Bangsa Di Kalangan Pemuda untuk Menangkal Radikalisme”. Jurnal Ilmiah. Vol. 4. No.2. Juli 2014.
Syamsuddin. “Penanaman Nilai Tasawuf dalam Menumbuhkan Karakter Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Pada Peran Pemuda”. Vol. 2. No. 2. 2016.
Wani, Misbahul. “Pemuda dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah: Pemuda Islam yang Berkualitas Tidak Lepas dari Pendidikan Orang Tua yang Totalitas”. Jurnal Studi Ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Vol. 13. No. 1. Juni 2019.
Web Link
Dalam Koran Sindo dengan judul “Mereka yang Mampu Mengguncang Dunia” oleh Yani Andryansjah http://nasional.sindonews.com/  diakses pada tanggal 9 Februari 2020. 
Dalam Kompasiana dengan judul “Mata Najwa, Anak Muda, dan 3 Pesan Nadiem Makarim” oleh Reynal Preasetya https://www-kompasiana-com.cdn.ampproject.org/ diakses pada tanggal 4 Maret 2020




[1] Imam Nahrawi. Jihad Kebangsaan. (Surabaya: PW LTN NU JATIM, 2017). 6.
[2] Abu Ahmadi. Ilmu Sosial Dasar. (Jakarta: PT. Rinka Cipta, 2003). 123.
[3] Suzanne Naafs dan Ben White. “Generasi Antara: Refleksi tentang Studi Pemuda Indonesia”. .Jurnal Studi Pemuda. Vol. 1 No.2. September 2012. 94.
[4] P. Julius F. Nagel. “Pengembangan Jiwa dan Kecerdasan Wirausaha Untuk Kemandirian Bangsa”. Seminar Nasional IENACO – 2016.
[8] Idad Suhada. Ilmu Sosial Dasar. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2016). 41.
[9] Moh. Haitami Salim. Pendidikan Agama dalam Keluarga. (Jogjakarta: Ar- Ruzz Media, 2017). 291.
[10] Tasmuji, Cholil, dkk. Ilmu Alamiah Dasar ILmu Sosial Dasar Ilmu Budaya Dasar (IAD-ISD-IBD). (Surabaya: UINSA Press, 2019). 235.
[13] Imam Nahrawi. Tegaskan Potensi Cinta Negeri. (Surabaya: Pustaka Idea, 2017). 17.
[14] Imam Nahrawi. Tegaskan Potensi Cinta Negeri. (Surabaya: Pustaka Idea, 2017). 18
[16] Imam Nahrawi. Tegaskan Potensi Cinta Negeri. (Surabaya: Pustaka Idea, 2017). 21.
[18] Wildan Herdiansyah. Melunaknya Perjuangan Masa Pergerakan Nasional. (Boyolali: Hamudha Prima Media, 2010). 75.
[19] Op. Cit. h. 21
[20] Gusti Ngurah A. A. M dan Ratna Arta W. “Organisasi Pemuda sebagai Wahana Kaderisasi Pemimpin Bangsa Berjiwa Pancasila”. Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
[22] Ibid.
[23] Sahipul Anwar. “Peran Mahasiswa Perguruan Tinggi Islam Aceh Tenggara sebagai Agents of Social Change”. Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya. Vol. 4 no. 2. 2019. 182.
[25] Fachmy Casofa, Habibie Tak Boleh Lelah dan Kalah. (Solo: Metagraf, 2014). 120.
[26] Idad Suhada. Ilmu Sosial Dasar. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2016). 115
[28] Imam Nahrawi. Jihad Kebangsaan. (Surabaya: PW LTN NU JATIM, 2017). 3.
[29] Sahipul Anwar. “Peran Mahasiswa Perguruan Tinggi Islam Aceh Tenggara sebagai Agents of Social Change”. Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya. Vol. 4 no. 2. 2019. 180.
[30] Anton Suwito. “Membangun Integritas Bangsa Di Kalangan Pemuda untuk Menangkal Radikalisme”. Jurnal Ilmiah. Vol. 4. No.2. Juli 2014.
[31] Syamsuddin. “Penanaman Nilai Tasawuf dalam Menumbuhkan Karakter Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Pada Peran Pemuda”. Vol. 2. No. 2. 2016.
[32] Abu Ahmadi. Ilmu Sosial Dasar. (Jakarta: PT. Rinka Cipta, 2003). 115.
[33] Abu Ahmadi. Ilmu Sosial Dasar. (Jakarta: PT. Rinka Cipta, 2003). 117.
[34] Ibid. 127.
[35] Ashinta Sekar Bidadari. “Ancaman Narkoba Bagi Generasi Penerus Bangsa”.
[36] Hartomo dan Arnicun. Ilmu Sosial Dasar. (Jakarta: Bumi Aksara, 1993). 114.
[37] Darmansyah, Agus, dkk. Ilmu Sosial Dasar. (Surabaya: Usaha Nasional). 84.
[38] Yudhaswara Januarharyono. “Peran Pemuda Di Era Globalisasi”.
[39] Waston Malau dan Daniel Harapan P. S.. “Pemuda dan Masa Depan Bangsa”. Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan. Vol. 1 No. 1. 2017. 33
[40] M. Muksin dan Iwan Krisnadi. “Peran ICT sebagai Media Pemuda Masa Kini dan Budaya Masyarakat”.
[41] Muhammad Fathur Rozaq. “Pengaruh Meme Terhadap Identitas Pemuda Muslim Nusantara: Telaah Respon Konten Instagram”. Jurnal Studi Keislaman. Vol. 19 No.1. Juni 2019.
[42] Dalam Kompasiana dengan judul “Mata Najwa, Anak Muda, dan 3 Pesan Nadiem Makarim” oleh Reynal Preasetya https://www-kompasiana-com.cdn.ampproject.org/ diakses pada tanggal 4 Maret 2020
[43] Ibid.